Jumat, 17 Februari 2012

Aku,Hujan dan Para Angin

Aku sakit
Kenapa semua ini tak bisa mengerti aku, seperti langit yang seolah menertawakanku, seperti waktu yang tak pedulikanku dan terus berlari.
Aku tak lebih dari sebatang kayu yang punya akar tapi kurang dahan dan daun apalagi buah
Bertahan kokoh seolah kuat tapi takkan bisa bertahan lama.
Liat aku sekarang.
Aku bahkan tak mengerti arti kata “suka”, tapi masih mengerti siapa kau di hatiku, mengerti siapa pemilik kerajaan hatiku walau kerajaan itu kini kehilangan pemiliknya.
Aku benci air mata palsu hujan, seolah ikut bersedih bersamaku namun membawa kenangan indah tentangnya, gemiciknya terus membisikkan padaku
“ingatkah kau saat kau memayunginya di bawahku?”
“ingatkah kau kenangan kau mengejarnya yang berlari di bawahku?”
“ingatkah kau ingatan tentangnya yang memelukmu dalam dinginku?”.
Aku memang telah kehilangannya.
Dia memang telah melepas rantai hatiku.
Tapi aku tak mengerti kenapa aku masih tak bisa sedikitpun berhenti menambatkan rinduku padanya, kenapa aku masih rela membuang waktuku hanya untuk bercumbu denagan bayangnya.
Jangan tanya aku, angin!
Aku sama sekali tak mengerti kenapa.
Kau, angin malam, terus saja memintaku membuang semua tentangnya, tapi kau tau membuang bayangnya juga sebuah cakaran di hatiku.
Kau terus bilang bahwa aku akan bahagia dengan yang lain, tapi itu tak terjadi padaku, kau tau bahkan mengenal kata “suka” seperti mengerti rumusan kimia yang tak pernah sama sekali kuketahui, apalagi meletakkan hatiku pada hati yang lain.
Kalian para angin, yang kalian lakukan hanya menabah satu lagi sayatan hatiku, bisakah kalian berhenti ikut campur dalam lukaku.
Diamlah!
Aku hanya ingin menulis ulang ceritaku dengannya, kali ini takkan ada akhir.

Sabtu, 26 November 2011

SEPENGGAL SAYAP

Keadaan yang sepenuhnya tak ikuti diriku.
Kembali yang tak terganti.
Batas bukan tak berarti.
Bersama langit tak bisa menghentikan.

Seolah waktu berputar mundur.
Sejalan puing indah kenangan.
Pengharapan tertutup hati kecil.
Terjebak di ruang waktu.

Biasa.
Sepenggal sayap tak mampu terbuka.
Sebelahnya lagi hanya bayangan.
Di tinggalkan takdir yang ingin kutulis.
Menyesal sebut dalam hati.

MASIH TENTANG INDAH

menutup sejenak rasa indah.
menatap kosong ke arah selanjutnya.
hati ini tertutup rapat.
tak lagi dapat menatap kagum.
hanya ada bekas tersisa.

pesona kehilangan artinya.
makna keindahan hanya sebuah pengkhianatan.
luput dari kiasan tentang indah.
tak indah walau berkata indah.

hati ini terkungkung sendirian.
berselimut takdir keabadian.
tak ingin kembali merasa indah.
masih tentang indah.

HATI DI DADA

Rasa malibuk dalam dada
kambang bungas gugur ka tanah.
Tapancar banyu mata.
Taganang ristaan ka batin.

Langit nang dahulu satu warna.
Tarubah tatambahi warna hirang.
Hujan kada lagi bungas.
Mehambur ingatan jantung hati.

Hati nang ramuk.
Hati nang rusak.
Hati nang patah.
Hati nang kada sempurna.
Wayah pian di lain waktu.

DALAM NASKAH

Membuka alur kegelapan.
Sebuah sinopsis mengikutinya.
Tertulis dengan tinta biru.
Kata berupa kepedihan.
Ekspresi dari kepalsuan.
Latar tertidur dalam buaian hitam.
Harapan ingin sirna tak terbatas.
Terhapus ruang dan waktu sebenarnya.
Tertinggal sakitnya kehilangan waktu.
Rima tak mengarah pada plot.
Tertulis di naskah.

RACUNMU

darah tak sepenuhnya darah.
bersenyawa dengan racunmu.
merusak keadaan sejatinya.
mengalir menuju tahap selanjutnya.
mencoba menghentikan nadi hidupku.
sebaliknya.
indraku berharap lebih pada racunmu.
membawa mimpi yang hilang kembali.
sebuah ruang bernama rindu terbuka di hati.
lagi dan lagi.
berharap racunmu penuhi lagi tubuhku.
ketergantungan indahmu.
racunmu menghidupkan dengan perlahan membunuhku.
racunmu yang kusebut cinta.

Selasa, 05 Juli 2011

Tak terucap.

Tak jelas bersemu takdir.
Berselimut tebal keabadian.
Suara langit menjerit.
Menitikkan tangisan sepinya.
Bertahan hancurkan kenangan.
Tak ingin sebut lagi namanya.
Tapi.
Hati tak mau mengerti.
Dia biarkan mata ini menangis darah.
Dia biarkan dirinya berlubang.
Dia sebut namamu dari dalam.
Walau tak terucap.